Tabir Kelabu

 Aku duduk dengan tangan terlipat. Mataku meraih cahaya lampu kamar yang redup dan akan padam sewaktu-waktu tanpa kusadari. saat ini aku tengah sibuk, duduk melantai sembari merangkul beban dari tanggung jawab kehidupan yang terus datang. Namun, diriku cukup apatis tentang masyarakat, apalagi kalau kekacauan ini semua mengharuskan ku untuk bergerak lebih jauh dari pada ini.

Aku seorang konservatif, tidak mempunyai pandang lebih terhadap dunia modern. setiap hari yang aku jalani terus kuhadapi dengan amarah dan benci, alasannya sepele tapi cukup merubah pandangan hidupku selama ini. Alasannya adalah karena dunia ini sangat rapuh, bahkan tidak ada kejelasan untuk berjuang kepada sesuatu yang bisa dihiraukan arti pentingnya, maka aku harus berhati keras kepada sesuatu yang remeh namun bernilai dimata seseorang, kecuali kepada sesuatu yang ada dan bahkan sudah sepatutnya ada di kehidupan ini yakni ilmu, aku harus berhati lembut dan bermanja-manja dengannya.

mataku sudah tidak mampu lagi mengimbangi cahaya layar laptop, saat ini aku kalah dengan rongsokan elektronik buatan negeri jiran. kepalaku terasa sesak dan sepertinya akan ada tumpukan kertas dan bahkan ocehan dosen yang membuang waktuku di hari esok.

"kenapa disaat sekarang aku terpikirkan? apakah sekarang waktunya untuk melepaskan penat?" 

aku berdiri, kemudian membuang badan ke kasur tipis tanpa pegas, hanya kapas itupun sudah beberapa bulan belum ku jemur. saat diatasnya punggungmu akan terasa remuk dan tubuhmu akan kaku setelah bangun sebab tidak ada yang menopang berat badamu selain kapas murahan yang usang,tapi ini masih lebih baik daripada tidur di atas lantai yang dingin dan berdebu.

aku terpikirkan untuk tertidur dan bangun dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya, kebiasaan yang berbeda, masalah yang berbeda, universitas yang berbeda, laptop yang berbeda, dan mungkin saja bola lampu yang berbeda. delusiku terhadap dunia fiksi cukup rumit, aku menyukai sesuatu yang sejalan dengan peraturan dan apapun yang terjadi di dunia itu. Aku mau masalah yang terjadi di dalam dunia dongengku adalah masalah yang serius, bukan seperti masalah membayar uang kos, uang palak, uang parkiran, uang kakus dan segala jenis masalah peruangan lainnya yang sebenarnya sepele cuman dibesar-besarkan sehingga aku tidak mampu melunasinya. 

masalah serius yang kuiinginkan dalam kehidupanku adalah seperti menjual aset terakhir negara, melawan negeri jiran yang korup atau mengalahkan ideologi yang sudah berdarah daging dimasyarakat, dan mungkin saja memecahkan masalah dari kemiskinan yang sudah lama sekali menjadi rahasia umum dimasyarakat majemuk.

mataku terpejam, sekarang ragaku mulai terombang-ambing di dalam arus mimpi. lamunanku akan segera nyata dengan bahari dari cita-cita ku yang telah lama aku idamkan. jika dunia berakhir di hari dimana aku berhasil mengalahkan bumi, maka aku puas, puas dan hanyut ke dalam hitam legamnya takdir.

Dimalam hari yang pelik itu, Obi tertidur pulas. Dengan berbagai macam masalah yang tengah dia hadapi Obi akan segera meraih impiannya yang selama ia idamkan disetiap kantuk menelan raganya. Dihari yang akan datang Obi akan melihat bahwa apa yang ia pertahankan selama ini akan runtuh, pandangannya terhadap dunia, bagaimana masyarakat bergerak dan berhenti. Obi akan tahu itu, tidak lama lagi setelah matanya terbelalak menyaksikan akhir dari pemikiran yang selama ini ia  pertahankan

Komentar